Ka.Kanwil Tekankan Pentingnya Guru Memiliki Modul Dalam Pembelajaran



Kabar Nusantara Post, Banjarmasin – Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Kalsel Dr. H. Muhammad Tambrin, M.M.Pd menerangkan, dalam kegiatan mengajar, tenaga pendidik atau guru memiliki banyak pilihan media mengajar. “Salah satu media mengajar yang umum digunakan oleh para pengajar, khususnya tenaga pendidik dari kalangan guru adalah modul pembelajaran,” katanya saat menyampaikan sambutan pada acara pembukaan penyusunan modul pembelajaran dan penyusunan SKP guru agama Katolik di Hotel Rodhita Banjarmasin, Senin (4/4/2022)

Tambrin menerangkan, modul disusun oleh sebuah kelompok maupun individu pembelajaran, yang kemudian disusun dengan sistematika yang rapi. Selanjutnya akan dicetak, hasil cetakan ini kemudian dijadikan pegangan tenaga pengajar sekaligus kepada para siswa. “Keberadaan modul pembelajaran ini kemudian memungkinkan seisi kelas untuk tetap dapat belajar, sekalipun guru yang mengajar di kelas tersebut tidak dapat mengisi karena satu dan lain hal, sehingga kegiatan pembelajaran tetap bisa berjalan,” terangnya.

Selanjutnya Tambrin membeberkan, ada beberapa karakteristik atau ciri dari modul pembelajaran yang bisa digunakan sebagai acuan yakni ciri pertama Self instructional  dari modul ini siswa pun bisa belajar secara mandiri. “Jadi, tanpa harus pendampingan guru pun, sebenarnya siswa bisa mempelajarinya, dengan kata lain, peserta didik belajar tanpa bergantung oleh pihak-pihak tertentu,” katanya. 

“Yang kedua self contained  yakni materi yang disampaikan lewat modul sudah disusun sesuai dengan unit kompetensi, sehingga pembahasan yang digunakan lebih lengkap, menyeluruh dan lebih efektif. Karena cukup dalam satu buku, materi pembelajaran sudah tersaji secara lengkap,” tambahnya.

Lebih lanjut Tambrin menyebutkan ciri yang ketiga adalah Stand alone  yaitu modul disusun dan dikembangkan secara mandiri. Maksudnya tidak bergantung pada media lain. Sehingga siswa yang mempelajari pun tidak terkesan ribet dengan media-media pendukung lainnya. karena dalam satu modul sudah dapat dipahami. 

“Ciri yang terakhir Adaptif dalam hal ini bisa terhadap banyak hal perkembangan, baik itu terhadap perkembangan teknologi ataupun ilmu pengetahuan yang sifatnya baru,” terangnya.

Terkait masalah Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) Tambrin mengajak kepada para guru agama Katolik yang mengikuti kegiatan tersebut agar dapat secara disiplin membuat SKP sesuai dengan beban kerjanya selama satu tahun sehingga tujuan dan fungsi dari SKP tersebut sebagai bahan evaluasi dapat terlaksana dengan baik.

“Hasil yang diperoleh dari SKP, nantinya akan diakumulasikan dengan perilaku guru di lingkungan sekolah untuk kemudian dijadikan bahan pertimbangan  dalam rangka pembinaan karir, pengangkatan, penempatan, penghargaan, dan disiplin,” pungkasnya. 

(Kanwil/Kemenag)